Kajian ilmiah : studi fenomenologi sesesorang memilih untuk menjomblo

Kajian ilmiah : studi fenomenologi sesesorang memilih untuk menjomblo 
by Prof. Dr. Nugrah Ady. Pn., CU., Gjlz., Bgt

Gue melihat fenomena ini di twitter dan 9gag : menJomblo itu aib, bagi sebagian orang.

Di Twitter gue sering membaca banyak twit yang menjelek-jelekan seorang jomblo, seperti : Jomblo itu.. kesepian; makan sendirian, nonton nggak ada yang nemenin, henponnya sepi, dan lain-lain. Atau twit lain yang ketika kita mengeluh, follower malah ngerespon : ‘jomblo ya?’, ‘Pantes Jomblo’, yang sebenarnya nggak ada nyambung-nyambungnya apa yang gue keluhkan di akun gue @adygila dengan kejombloan. Contohnya ini :





Sehina itu kah para jomblo di mata kalian? Anak muda? *genjreng gitar*



Jomblo seolah menjadi tekanan pergaulan yang membuat SEMUA orang berlomba-lomba untuk sekedar ‘memiliki pacar’ hanya agar tidak diejek, padahal tidak semua bahagia dengan pilihan yang mereka ambil.

Yang cowok jadi seperti : ‘wah cantik tuh, tembak ah, ketimbang gue jomblo’
Yang cewek jadi seperti : “hmm mumpung ditembak, terima ah ketimbang jomblo’

Satu bulan kemudian putus, alasannya nggak cocok lah, dia jahat lah, inilah, itulah, padalah mereka tau sebab utamanya : memutuskan untuk berpacaran dengan dalih ‘ketimbang jomblo’ tanpa mikir masak-masak ketika membuka hati, hasilnya? Tidak bahagia

Sampai gue menemukan sebuah konsep di mana Tampang, mungkin menjadi faktor utama seseorang cepat mendapat pasangan, sampai  gue dalam beberapa kesempatan jalan-jalan ke Mall, melihat orang-orang berlalu lalang.

Gue melihat fenomena ini :


banyak cowok yang mukanya pas-pasan (misalnya lo kurang paham bagaimana konsep cowok muka pas-pasan, buka profile picture facebook gue), ceweknya putih, tinggi, anggun, dan menawan. 

I upload it with iri dengki berkecamuk di dada
Ada yang ceweknya dandanannya aneh banget, pakai hotpant memamerkan pahanya yang aduh, gelap, bedaknya tebel banget saking tebelnya kalau si cewek ada yang nampar bakalan ngebul gandengan ama cowok yang ganteng banget (misalnya lo kurang paham dengan konsep cowok ganteng banget itu seperti apa, zoom avatar twitter gue)

Dari sini gue mendapat hipotesa : tampang bukan indikator lo bakalan jomblo atau enggak. Mungkin setelah baca fenomena yang gue sajikan bakalan ada yang nyeletuk “ah itu pasangannya pasti mapan dan kaya”. Gue berani jawab, enggak juga. Konsep mapan itu abstrak, nggak jelas batasnya. Dan gue melihat fenomena ini ketika gue makan di kaki lima pinggir jalan, karena gue keterbatasan dana untuk melakukan riset di tempat-tempat mahal. Jadi hipotesa gue yang kedua : banyak bukan variabel pembentuk utama peningkatan jumlah pacar dan kualitas pacar.

Gue melakukan kajian fenomenologi kepada mereka yang jomblo. Sampel yang gue wawancara gue pisah menjadi dua klasifikasi

  1. Jomblo dengan muka pas-pasan cenderung ancur
  2. Jomblo dengan muka ganteng dan cantik.

Tidak sulit mencari responden untuk klasifikasi pertama, mereka ada di mana-mana. Di kampus, sekolahan, Mall, camp-camp pengungsian, di televisi, di youtube, selokan, ngambang di sungai, bayangan di cermin. Mereka ada di mana-mana. saking banyaknya gue bahkan mendengar isu mereka sedang mendeklarasikan dan membuat nota kesepakatan damai pembentukan sebuah negara baru di sebuah pulau kecil di tengah-tengah samudra pasifik dan membuat distrik terbatas pada sebuah kota rahasia di greenland.

Gue mengambil 20 sampel dengan teknik Insidental Sampling. Artinya, orang-orang yang gue jadikan responden gue tabrak dulu dengan mobil, setelah kepalanya terbentur hebat, barulah gue wawancara. Namun sayangnya dari seluruh responden yang gue wawancara dengan pertanyaan ‘kenapa anda jomblo?’ jawabannya cenderung homogen dan uncualified. Jawaban mereka cenderung sama. 98% menjawab ‘karena tampang saya kurang menjual’. Sisanya jawaban acak seperti ‘APAAN SIH LO NANYA-NANYA? NGGAK NGACA?’ dan lainnya abstain.

Akhirnya hasil 20 sampel ini gue buang karena gue tidak bisa mendapat kesimpulan apa-apa.

Selanjutnya gue melakukan wawancara untuk 20 sampel responden kualifikasi kedua. Karena diri sendiri tidak bisa dijadikan data karena akan membuat hasil cenderung subjektif dan tidak realibel, akhirnya gue mencoret diri gue sendri dan kemudian memasukan responden baru. Dari sini gue mendapat kesimpulan akhir kenapa orang memilih untuk menjomblo :

1. Naksir temen se-Geng.

Fakta ini sedikit mencengangkan, alasan kenapa menjomblo adalah Naksir teman se-geng. Jadi seperti ini, pergaulan manusa sekarang cenderung tersekat dalam kubu-kubu, dalam penelitian oleh Robin Dunbar di Oxford University menyebutkan bahwa manusia, di luar sosial media, hanya akan memiliki teman yang benar-benar bisa diatur oleh otak sebanyak 150 orang. 5-6 adalah Sahabat sangat dekat, 40an diantaranya adalah teman yang sering bertemu di kelas atau kantor, dan sisanya adalah teman saja. Di luar dari itu teman hanya kenal nama, tapi tidak akrab, dan kecendrungannya seperti ini : teman akan selalu berotasi, teman baru masuk, teman lama ditinggal, teman baru pergi, teman lama kembali. Hal inilah alasan utama kenapa Path hanya memiliki 150 teman.

Iya ini copas google. Ah elah. Biar gue keliatan pintar dikit kenapa? Protes aja.

Close friend, atau sahabat yang terdiri atas 5-6 ini, tidak jarang, saking dekatnya menumbuhkan benih-benih asmara diantara 2 anggotanya. Namun sayangnya, ketika 2 anggota ini jadian. Close friend mereka cenderung pecah.

Berikut wawancara gue bersama Annisa, tapi berhubung Annisa tidak mau namanya gue sebut dalam tulisan ini, kita samarkan saja menjadi Icha.

“aku sebenarnya suka sama Sutijo, tapi aku takut, setelah kami pacaran, dan mungkin putus, persahabatan aku, Sutijo, Dipsy, Lala, dan Po mungkin berasa nggak enak. Ketika pacaran bakalan dicie-ciein setiap kita nongkrong, di mintain PJ alias Pajak jadian, dan ketika putus bakalan pecah kongsi, mungkin, aku berkoalisi dengan Po, Sutijo dengan Lala dan Dipsy.”

“Pacaran ama sahabat sendiri banyak enggak enaknya. Makanya aku memilih untuk jomblo aja, sampai aku ketemu yang mirip tapi tak sama seperti Sutijo.” Ujar Icha dengan bercucuran air mata. Saat itu dia sedang memotong bawang.

2. Terlalu sibuk dengan pekerjaan.

Terlalu mengejar karir dan sibuk dengan kuliah menjadi alasan selanjutnya kenapa orang memutuskan untuk menjomblo. Banyak waktu habis untuk bekerja, sehingga tidak sempat lagi mencari tambatan hati.
Petikan wawancara gue dengan Christoper Joe, cowok belasteran yang sebenarnya ganteng, tapi entah kenapa malah jomblo. Ini menganggu otak gue. Ganteng kenapa jomblo? Akhirnya dia gue pilih sebagai responden. To find the reason

“Ya ghini ini hidup gueh. My life to much to excuse my own project than find my love” Ujar Joe sambil ngaduk semen. “pagi gueh ngaduk semen, siang dikit gue harus ke London..”
“studi banding kanal banjir? Uji kualitas jembatan stamford”
“ngaduk semen juga..”
“….”

Gue sebenarnya ingin bertanya banyak hal lagi, namun Joe malah mengusir gue baik-baik. Dia sibuk banget. pantes jomblo

 3. Belum menemukan yang cocok.

Alasan selanjutnya kenapa orang memilih untuk Jomblo adalah tidak memiliki kecocokan dengan pasangan, terjadi berulang kali, baik itu visi, misi, paham, sosial, dan agama.  Kadang ada yang udah cocok tapi keluarga nggak setuju, kadang ada yang udah tau nggak cocok tapi dipaksa-paksain cocok namun akhirnya berpisah. Lalu setelah tak lagi memiliki pacar, mereka cenderung menutup diri untuk menjomblo, sampai ada yang ‘cocok’ menurut mereka, walaupun gue agak tersentil dengan konsep cocok dan tidak cocok ini. Karena bagi gue, cocok adalah bagaimana cara kita menerima kekurangan.

“Aku jomblo karena belum menemukan yang cocok aja buat aku.”

Gue menatap matanya, lalu berkata “sebenarnya gini, cocok itu masalah kamu menerima kekurangan dari dia. Ketika kamu bisa berubah menjadi apa yang hubungan kamu butuhkan.”
“kamu benar Dy.. nggak salah curhat sama kamu” kemudian Alex bangkit dari kursi, mengunci kamar, dan mematikan lampu.
“LOH LEK MAU NGAPAIN KON.. LOH.. LOH.. ARRRRRGGGHHHHHH … ARRRRRRRRGGGGGHH”

Gue nggak bisa liat apa-apa, gue nggak ingat apa-apa setelah itu, yang gue rasa pantat gue seperti terbakar.

4. Cinta diam-diam.

Ternyata eh ternyata, penyakit ragu mengungkapkan apa yang kita rasa kepada seseorang yang kita suka tidak hanya menjangkiti pada Jomblo dengan kualifikasi 1, namun juga Jomblo dengan kualifikasi 2. Perasaan minder, takut setelah nembak si Doi malah pergi, dan perasaan takut tidak bisa memberikan rasa bahagia dan Aman (alasan terakhir hanya terjadi pada Jomblo kualifikasi 2). Padahal menurut REG spasi Mbah Cinta. Cinta yang baik adalah cinta yang diungkapkan.

Petikan wawancara selanjutnya adalah Herman, dia adalah seorang Auditor internal Bank swasta yang sudah lama menjomblo. Gue menangkap konsep ‘mapan’ namun yang tidak gue temukan adalah ‘pasangan’, untuk alasan inilah gue memilih dia menjadi responden

“Aku naksir seseorang, tapi aku takut banget ngungkapinnya, aku takut mengungkapkannya. Aku rasa si doi yang aku taksir orangnya sensitif, tertutup, dan sulit menerima kekurangan aku..”
“heh? Kekurangan apa? Kamu ganteng, kaya, cewek mana sih yang nggak mau? Udah ungkapin aja..”
“aku takut dia nggak bahagia sama aku…”
“Man, gini, bahagia itu diciptakan bukan diberikan. Tembak dia, lalu ciptakan kebahagiaan kalian bersama. So ungkapin aja, dan walaaa.. kamu resmi tidak jomblo”
“jadi ungkapin aja nih?”
“yup, benar sekali.. kalau perlu setelah tembak, perkosa sekalian, haha” gue mengajak Herman bercanda.

“Ady.. gini, udah lama aku mau ungkapin ini ke kamu.. sebenarnya aku suka sama kamu, aku mau kamu jadi pacar aku..”

“err.. WHAT! No no no no..”

Kemudian Herman bangkit dari kursi, mengunci kamar, mematikan lampu. Gue nggak ingat apa-apa lagi setelah itu, yang gue rasa adalah pantat yang seperti tersengat lebah dan lubang hidung yang membesar sebelah.

***
Oke demikian kajian ilmiah gue kali ini. Lo jomblo yang mana?

See u next!




5 Comments

  1. Belum menemukan yang cocok?
    YA YAAA! BISA JADIII :D

    BalasHapus
  2. Wah.. terima kasih Prof. Ady, penjelasan anda sangat mencerahkan para pembaca... *respect*

    BalasHapus
  3. Hahaha. Yang ketiga palsu banget. Dan itu, yang pacar satunya ganteng/cantik satunya jelek keren yak. Kayak keajaiban dunia tapi nyata gitu.

    BalasHapus
  4. Salam Jomblo X *pake gaya Andofi da lopez

    BalasHapus

Dikomen boleh. dipipisin yang jangan